Langsung ke konten utama

Mengenal Kepribadian: Bedanya Sudut Pandang Psikologi Barat dan Islam


Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya membentuk sifat dan perilaku kita? Dalam dunia akademis, "kepribadian" punya banyak definisi. Tapi kalau kita bedah dari sisi Psikologi Islam dan Psikologi Barat (seperti teori Sigmund Freud), ternyata ada perbedaan yang menarik banget buat disimak!

Akhlak vs Gejala: Dua Cara Melihat Perilaku

Kalau kita baca pemikiran tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali, beliau lebih sering menyebut kepribadian dengan istilah Akhlak. Fokusnya adalah menilai apakah suatu perilaku itu baik atau buruk.
Beda lagi dengan psikologi modern. Di sana, kepribadian dilihat sebagai gejala atau sifat yang didiagnosa untuk memahami karakter seseorang. Jadi, yang satu bicara soal "nilai moral", yang satu lagi soal "pola perilaku".

Tiga "Kepribadian" dalam Diri Manusia

Menurut perspektif Islam

manusia itu bukan cuma gabungan daging dan tulang (Jasad) atau nyawa (Ruh) saja, tapi ada satu elemen penting yang disebut Nafs.
Nafs ini ibarat "wadah" yang menyatukan tubuh dan jiwa kita. Di dalam Nafs, ada tiga komponen utama yang mengatur cara kita bertindak:
  1. Al-Qalb (Kalbu): Ini pusat emosi atau rasa. Kalbu adalah sisi "Ilahi" yang bikin kita punya perasaan halus.
  2. Al-'Aql (Akal): Ini pusat logika dan pikiran (kognisi). Akal membantu kita menimbang sesuatu secara sadar
  3. Al-Nafs (Nafsu): Ini dorongan keinginan atau kehendak. Seringkali sifatnya lebih mendasar atau instingtif.
Singkatnya, kepribadian dalam Islam adalah hasil kerjasama antara Hati, Akal, dan Nafsu.

Versi Barat: Id, Ego, dan Superego

Kalau bicara psikologi Barat, kita nggak bisa lepas dari Sigmund Freud. Menurutnya, "kepribadian" manusia itu terdiri dari tiga bagian juga, tapi dengan istilah berbeda:
  1. Id: Ini adalah sisi impulsif dan primitif kita. Pokoknya apa yang kita mau sekarang, harus dituruti tanpa mikir panjang.
  2. Superego: Kebalikan dari Id. Ini adalah gudang nilai moral dan aturan masyarakat yang kita pelajari. Dia yang selalu bilang, "Eh, itu nggak sopan" atau "Itu salah."
  3. Ego: Nah, si Ego ini tugasnya jadi wasit. Dia yang menengahi antara keinginan liar si Id dan aturan ketat si Superego supaya kita tetap bisa bertindak normal.

Kesimpulannya

Meskipun istilahnya berbeda, apakah itu Al-Ghazali dengan konsep Nafs-nya atau Freud dengan konsep Ego-nya. Keduanya setuju bahwa perilaku kita adalah hasil "perang" atau kerjasama antara berbagai elemen di dalam diri.
Memahami hal ini bikin kita sadar kalau menjadi pribadi yang baik itu butuh keseimbangan antara keinginan, logika, dan hati nurani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialektika Fitrah dan Tabula Rasa: Memahami Hakikat Dasar Manusia

Dalam kajian antropologi dan psikologi perkembangan, pertanyaan mendasar mengenai kondisi manusia saat dilahirkan selalu menjadi topik yang krusial. Apakah manusia lahir dengan membawa potensi bawaan, ataukah ia merupakan "lembaran kosong" yang sepenuhnya dibentuk oleh lingkungan? Penulis akan mengulas perbandingan antara konsep Fitrah dalam tradisi Islam dan Tabula Rasa dalam tradisi Barat. Konsep Fitrah: Potensi Teologis dan Moral Bawaan Dalam epistemologi Islam, manusia tidak dilahirkan dalam keadaan kosong atau netral secara moral. Konsep Fitrah (QS. Ar-Rum: 30)  yang menegaskan bahwa fitrah adalah sistem penciptaan Allah yang melekat pada manusia dan tidak berubah. Hal ini diperkuat oleh hadis yang menyatakan bahwa setiap anak lahir di atas fitrah, sementara lingkungan sosial (orang tua) berperan dalam mengarahkan orientasi keagamaan dan perilakunya. menegaskan bahwa setiap individu lahir dengan membawa potensi dasar yang luhur. Dimensi Teologis: Fitrah merupakan kecende...

Breadcrumbing: Seni Memberi Harapan Tanpa Kepastian

Pernahkah Anda merasa berada dalam sebuah hubungan yang seolah "jalan di tempat"? Seseorang terus-menerus mengirim pesan singkat, memberikan like di media sosial, atau melontarkan janji manis untuk bertemu, namun tidak pernah benar-benar mewujudkannya? Dalam dunia kencan modern, fenomena ini dikenal sebagai " Breadcrumbing ". Istilah ini mungkin terdengar ringan, namun dampak psikologis yang ditinggalkan bisa sangat mendalam. Apa Itu Breadcrumbing Secara Substansial? Secara harfiah, " breadcrumbing " adalah tindakan meninggalkan "remah-remah roti" emosional untuk menjaga seseorang tetap tertarik tanpa ada niat untuk berkomitmen. Ini adalah bentuk manipulasi halus yang membuat korbannya merasa seolah-olah mereka hampir mendapatkan cinta yang mereka inginkan, padahal sebenarnya mereka hanya sedang dijaga agar tetap menjadi "cadangan". Perspektif Para Ahli: Mengapa Breadcrumbing Ini Terjadi? Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat...