Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini & Insight

Seni Mengolah Emosional: Mengapa Kita Harus Belajar Merasakan Emosi

Pernah nggak kita merasa seolah-olah semuanya baik-baik saja, wajah tetap tenang, tapi di dalam hati rasanya kosong atau hampa. Banyak dari kita yang sering "mengubur" perasaan sedih, marah, atau kecewa supaya terlihat kuat atau karena merasa nggak punya tempat untuk bercerita. Dalam psikologi, kondisi ini disebut dengan Emotional Suppression . Kedengarannya mungkin seperti cara yang rapi untuk tetap kalem, tapi sebenarnya, memendam emosi itu punya "harga" yang sangat mahal bagi kesehatan mental kita. Mengapa Memendam Emosi Itu Berbahaya Menurut James Gross , seorang pakar psikologi dari Stanford University , menekan emosi justru menguras energi otak kita. Gross menjelaskan bahwa ketika kita mencoba menyembunyikan perasaan, kita sebenarnya sedang melakukan kerja keras mental yang luar biasa. Akibatnya kita jadi gampang lelah secara fisik dan sulit berkonsentrasi karena memori jangka pendek terganggu oleh "beban" emosi tersebut. Selain itu, seorang psikote...

Mengenal Kepribadian: Bedanya Sudut Pandang Psikologi Barat dan Islam

Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya membentuk sifat dan perilaku kita? Dalam dunia akademis, "kepribadian" punya banyak definisi. Tapi kalau kita bedah dari sisi Psikologi Islam dan Psikologi Barat (seperti teori Sigmund Freud), ternyata ada perbedaan yang menarik banget buat disimak! Akhlak vs Gejala: Dua Cara Melihat Perilaku Kalau kita baca pemikiran tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali, beliau lebih sering menyebut kepribadian dengan istilah Akhlak. Fokusnya adalah menilai apakah suatu perilaku itu baik atau buruk. Beda lagi dengan psikologi modern. Di sana, kepribadian dilihat sebagai gejala atau sifat yang didiagnosa untuk memahami karakter seseorang. Jadi, yang satu bicara soal "nilai moral", yang satu lagi soal "pola perilaku". Tiga "Kepribadian" dalam Diri Manusia Menurut perspektif Islam manusia itu bukan cuma gabungan daging dan tulang (Jasad) atau nyawa (Ruh) saja, tapi ada satu elemen penting yang disebut Naf...

Mengenal Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD)

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang merasa dirinya paling benar, paling hebat, dan selalu ingin jadi pusat perhatian? Hati-hati, bisa jadi itu bukan sekadar percaya diri yang tinggi, tapi tanda dari Gangguan Kepribadian Narsistik atau yang sering disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). Mari kita bahas lebih dalam apa itu NPD, apa penyebabnya, dan bagaimana ciri-cirinya supaya kita lebih mawas diri! Apa Sih Sebenarnya Narsistik (NPD) Itu? Berbeda dengan rasa percaya diri yang sehat, narsistik adalah kondisi mental di mana seseorang merasa dirinya jauh lebih penting dari orang lain. Mereka butuh pujian terus-menerus dan biasanya kurang bisa berempati atau merasakan apa yang dirasakan orang lain. Singkatnya, kalau percaya diri itu muncul karena kualitas diri yang nyata, narsistik justru sering muncul karena rasa takut akan kegagalan atau takut orang lain melihat kelemahan mereka. Kenapa Seseorang Bisa Jadi Narsistik Sampai sekarang, para ahli belum tahu pasti penyebab utamanya....

Mengenal Revenge Bedtime Procrastination: Fenomena Psikologi Si Pencuri Waktu Tidur.

Pernah nggak sih, kamu merasa hari-harimu habis cuma buat kerja atau ngerjain tugas? Dari pagi sampai sore (bahkan malam) hidup rasanya cuma buat orang lain atau kewajiban. Nah, pas sampai di tempat tidur, bukannya langsung merem, tangan malah gatal pengen scrolling TikTok, nonton drama Korea sampai subuh, atau sekadar main game. Padahal, kamu tahu besok pagi harus bangun awal dan badan sudah capek banget. Tapi di dalam hati kamu merasa: "Ini satu-satunya waktu bebas gue!"Kalau kamu sering begini, selamat! Kamu sedang mengalami fenomena psikologi yang namanya Revenge Bedtime Procrastination. Apa Sih Sebenarnya Fenomena Ini? Sesuai namanya, ini adalah aksi "balas dendam" (revenge). Kita merasa "mencuri" waktu tidur malam untuk menggantikan waktu luang yang hilang di siang hari. Karena siangnya kita nggak punya kendali atas waktu sendiri, malam hari jadi satu-satunya momen di mana kita merasa berkuasa penuh. Biasanya, gejala utamanya adalah: Menunda tidur ta...

Kenapa Si Kecil Sering "Meledak" Pulang Sekolah? Mengenal Restraint Collapse dan Cara Mengatasinya

Pernah nggak sih, Ayah atau Bunda merasa bingung? Di sekolah, guru bilang si Kecil adalah anak yang penurut, tenang, dan baik-baik saja. Tapi begitu sampai di rumah atau masuk ke mobil, dia tiba-tiba jadi rewel, gampang nangis, atau bahkan tantrum hebat hanya karena hal sepele. Kalau iya, tenang... Bunda nggak sendirian. Fenomena ini punya nama ilmiah: After-School Restraint Collapse. Apa Itu Restraint Collapse? Bayangkan anak kita seperti sebuah botol soda yang dikocok pelan-pelan sepanjang hari. Di sekolah, mereka berusaha keras untuk "menahan diri" (restraint). Mereka harus duduk diam, mengikuti aturan, berbagi mainan, dan belajar hal baru yang melelahkan secara mental. Begitu sampai di rumah, mereka merasa berada di "zona aman". Mereka tahu Bunda dan Ayah akan menyayangi mereka apa adanya. Akhirnya, semua emosi yang dipendam seharian itu meledak keluar seperti botol soda yang dibuka tutupnya. Jadi, ini sebenarnya tanda bahwa anak merasa sangat nyaman dan aman be...

Mengatasi Fenomena Rasa Malas: Mengubah Sinyal Mental Menjadi Produktivitas

Rasa malas kini menjadi tantangan utama bagi produktivitas pelajar dan mahasiswa di era digital. Meskipun sering mendapatkan label negatif, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rasa malas sebenarnya merupakan indikator psikologis bahwa seseorang memerlukan istirahat atau arah tujuan yang lebih jelas. Akar Masalah: Mengapa Kita Menunda? Menurut pakar psikologi motivasi, rasa malas bukanlah cerminan dari ketidakmampuan individu. Utami (2023) dalam studinya menyebutkan bahwa fenomena ini sering dipicu oleh kurangnya tujuan yang spesifik atau kondisi kelelahan mental. Beberapa faktor pemicu utama yang diidentifikasi meliputi: Distraksi Digital: Paparan notifikasi dan hiburan instan yang menurunkan kemampuan fokus jangka panjang (Sari, 2022).  Perfeksionisme: Ketakutan akan hasil yang tidak sempurna sering kali menghentikan langkah awal dalam memulai pekerjaan. Kelelahan Emosional: Aktivitas berlebih tanpa jeda istirahat yang cukup memicu hilangnya motivasi secara alami.  Dampak Si...

Mengenal Maladaptive Daydreaming: Ketika Khayalan Mulai Mengganggu Realitas

Fenomena Maladaptive Daydreaming atau gangguan melamun berlebih kini mulai mendapatkan perhatian serius di bidang psikologi populer. Berbeda dengan melamun pada umumnya, kondisi ini merujuk pada intensitas khayalan yang sangat mendalam dan persisten hingga mampu mendisrupsi aktivitas sehari-hari pengidapnya. Menurut para ahli, Maladaptive Daydreaming bukan sekadar pelarian sesaat dari rasa bosan. Ini adalah sebuah kondisi di mana seseorang menghabiskan waktu berjam-jam dalam dunia imajiner yang terstruktur, memiliki alur cerita yang kompleks, dan karakter yang terasa sangat hidup. Karakteristik Utama Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat beberapa indikator yang membedakan melamun biasa dengan kondisi maladaptif: Intensitas Tinggi: Khayalan terasa seperti "dunia kedua" yang sangat nyata. Durasi Panjang: Melamun dapat berlangsung selama berjam-jam tanpa henti. Gangguan Fungsi: Mengganggu produktivitas, hubungan sosial, dan kewajiban di dunia nyata. Pemicu Tertentu: Ser...