Langsung ke konten utama

SEJARAH SINGKAT KEHIDUPAN ASY SYAIKH ABU BAKAR BIN SALIM

        بسم الله الرمحن الرحيم 

الحمد الله رب العالمين و الصلاة و السلام على سيدامحمد و

على آله و صحبه و سلم. أما بعد




         

           Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim dilahirkan di kota Tarim pada hari Sabtu, 23 Jumadil Akhir, tahun 919 Hijriyah. Ibu beliau adalah  Asy Syarifah Talhah binti Aqil bin Ahmad bin Abi Bakar As Sakran. Ayah beliau Asy Syaikh Salim bin Abdullah bin Abdur Rahman bin  Abdullah bin Abdur Rahman As Seggaf adalah seorang ulama yang shaleh. Jauh dari sebelum Asy Syeikh Abu Bakar bin Salim dilahirkan,  beberapa awliya telah memberitakan kabar gembira tentang kewaliannya. Diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Alwi bin Abdur Rahman As Seggaf yang tinggal di Maryamah. Suatu hari beliau sedang berjalan dan melewati hamparan tanah yang luas dan tidak berpenghuni. Beliau duduk di sana berteduh dan mengatakan, “Kelak suatu saat tempat ini akan menjadi kota yang makmur. Dibangun oleh seorang pemimpin awliya yang agung. Kemudian beliau berdiri dan menunjuk kepada suatu tempat lalu mengatakan, di tanah ini dia akan membangun masjidnya. Kemudian menunjuk tempat lainnya dan seraya mengatakan, di tempat ini dia akan mendirikan rumahnya. Lalu menunjuk ke tempat yang lain, di sana akan menjadi pekuburannya. Bahkan puluhan tahun sebelum kelahirannya, sang kakek Al Imam Abdullah bin Abdur Rahman As Seggaf pernah menyatakan“Kelak akan lahir seorang keturunanku yang sangat tinggi martabat kewaliannya hingga menyaingi leluhur-leluhurnya”.Manusia agung ini adalah Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdur Rahman bin Abdullah bin Abdur Rahman As Seggaf bin Muhammad Maula Ad Dawilah bin Ali bin Alwi bin Al Faqiih Al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbaath bin Ali Khala’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shahib Ash Shauma’ah bin Alwi Al Mubtakar bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zain Al Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib, ibu mereka adalah Fathimah Az Zahra putri Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

        Dari sejak kecil beliau dididik oleh sang ayah, Asy Syaikh Salim bin Abdullah. Diajarkan Al Qur’an dan diperintahkan untuk menghafalnya. Namun Asy Syaikh Abu Bakar mengalami kesulitan dalam menghafalnya. Maka sang ayah mengadukan keadaan tersebut kepada Asy Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Abdur Rahman. Maka Asy Syaikh Syihabuddin mengatakan kepada sang ayah, janganlah kamu khawatir, karena sesungguhnya Al Qur’an sendiri yang akan mendatangi anakmu ini. Dan dari sejak itu Asy Syaikh Abu Bakar semakin giat menghafal Al Qur’an hingga dalam jangka waktu empat bulan beliau selesai menghafalnya.Kemudian beliau mulai berguru dan menimba ilmu kepada ulama-ulama besar di zamannya. Diantaranya adalah Asy Syaikh Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Ba Syaibaan, Asy Syaikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah, Asy Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Abdur Rahman, Asy Syaikh Ahmad bin Alwi Bajahdab, Asy Syaikh Ma’ruf bin Abdullah Ba Jammaal. Sebagaimana beliau juga mendapatkan ijazah melalui surat menyurat kepada ulama dunia. Diantara mereka adalah Asy Syaikh Ibnu Hajar Al Haytami Al Makki, Asy Syaikh Abu Al Hasan Al Bakri dan ulama-ulama lainnya.Ketika berguru kepada Asy Syeikh Ma’ruf beliau diuji dengan ujian yang berat. Selama 40 hari bersimpuh di depan rumah Asy Syaikh Ma’ruf menunggu izin untuk masuk namun tidak diizinkan. Terkadang dituangkan diatas kepalanya air cucian tangan, diuji untuk mencium kedua kaki sang guru. Namun beliau sabar, patuh dan tabah. Setelah berlalu 40 hari beliau diizinkan untuk masuk dan berjumpa dengan sang guru. Di saat berjumpa itulah Allah membuka hati Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim berkat sang guru dan berkat kesabaran dan ketabahannya atas ujian sang guru.Setelah itu banyak murid-murid yang menimba ilmu kepada Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim dari berbagai penjuru dunia. Dari Hadramaut, Al Yaman, Asy Syaam, India, Pakistan, Mesir, Afrika, Maroko, Iraq dan bahkan Romawi. Diantara murid-murid yang belajar kepada beliau adalah: Al Imam Ahmad bin Muhammad Al Habsyi, Al Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al Biydh, Al Imam Abdur Rahman bin Muhammad Al Jufri, Al Imam Muhammad bin Abdur Rahman As Siraaj Ba Jammaal, Al Imam Abdur Rahman bin Ahmad Ba Waziir, Al Imam Hasan bin Ahmad Ba Syu’aib, Al Imam Ali bin Jaarullah bin Adz Dzahirah, Al Imam Abdul Qodir bin Ahmad Al Faakihi Al Makki, Al Imam Ni’matullah bin Abdullah Al Jailani, Al Imam Yusuf bin Abid Al Hasani. Dan masih banyak lagi dari mereka yang tersebar di berbagai penjuru dunia. 

        Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim menghabiskan seluruh hidupnya dalam menghamba kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Selama 40 tahun beliau shalat subuh dengan wudhu solat isya. Seumur hidupnya dari sejak tamyiiz hingga wafat tidak pernah meninggalkan shalat dhuha dan shalat witir dengan sempurna. Setiap tahun selama 90 hari berpuasa di saat puncak musim panas yang membakar dan berbuka hanya dengan beberapa butir kurma mentah. Lebih dari 15 tahun hingga beliau wafat tidak pernah duduk melainkan duduk dengan posisi bagaikan orang yang sedang tasyahud. Ketika ditanya tentang hal itu beliau menjawab, beginilah duduknya seorang hamba di hadapan Tuhannya. Asy Syaikh Abu Bakar bin Salim wafat selepas Isya pada malam Ahad 27 Dzulhijah tahun 992 Hijriyah. Semoga Allah memberikan Rahmat atasnya dan menempatkannya di surga bersama para kekasih-Nya. Amin ya Allah.


صلى الله و سلم على سيدان محمد و آله و صحبه و سلم و الحمد الله 

  رب العالمين.

Disarikan dari dua karya tulis Al Habib Salim bin 

Ahmad bin Jindan yang berjudul Qutf Ats Tsamar fi Manaqib Asy 

Syeikh Abi Bakar dan karya beliau yang berjudul Al Baraahiin Wa Al 

Bayyinaat Fi Manaqib Maula Inat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialektika Fitrah dan Tabula Rasa: Memahami Hakikat Dasar Manusia

Dalam kajian antropologi dan psikologi perkembangan, pertanyaan mendasar mengenai kondisi manusia saat dilahirkan selalu menjadi topik yang krusial. Apakah manusia lahir dengan membawa potensi bawaan, ataukah ia merupakan "lembaran kosong" yang sepenuhnya dibentuk oleh lingkungan? Penulis akan mengulas perbandingan antara konsep Fitrah dalam tradisi Islam dan Tabula Rasa dalam tradisi Barat. Konsep Fitrah: Potensi Teologis dan Moral Bawaan Dalam epistemologi Islam, manusia tidak dilahirkan dalam keadaan kosong atau netral secara moral. Konsep Fitrah (QS. Ar-Rum: 30)  yang menegaskan bahwa fitrah adalah sistem penciptaan Allah yang melekat pada manusia dan tidak berubah. Hal ini diperkuat oleh hadis yang menyatakan bahwa setiap anak lahir di atas fitrah, sementara lingkungan sosial (orang tua) berperan dalam mengarahkan orientasi keagamaan dan perilakunya. menegaskan bahwa setiap individu lahir dengan membawa potensi dasar yang luhur. Dimensi Teologis: Fitrah merupakan kecende...

Breadcrumbing: Seni Memberi Harapan Tanpa Kepastian

Pernahkah Anda merasa berada dalam sebuah hubungan yang seolah "jalan di tempat"? Seseorang terus-menerus mengirim pesan singkat, memberikan like di media sosial, atau melontarkan janji manis untuk bertemu, namun tidak pernah benar-benar mewujudkannya? Dalam dunia kencan modern, fenomena ini dikenal sebagai " Breadcrumbing ". Istilah ini mungkin terdengar ringan, namun dampak psikologis yang ditinggalkan bisa sangat mendalam. Apa Itu Breadcrumbing Secara Substansial? Secara harfiah, " breadcrumbing " adalah tindakan meninggalkan "remah-remah roti" emosional untuk menjaga seseorang tetap tertarik tanpa ada niat untuk berkomitmen. Ini adalah bentuk manipulasi halus yang membuat korbannya merasa seolah-olah mereka hampir mendapatkan cinta yang mereka inginkan, padahal sebenarnya mereka hanya sedang dijaga agar tetap menjadi "cadangan". Perspektif Para Ahli: Mengapa Breadcrumbing Ini Terjadi? Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat...

Mengenal Kepribadian: Bedanya Sudut Pandang Psikologi Barat dan Islam

Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya membentuk sifat dan perilaku kita? Dalam dunia akademis, "kepribadian" punya banyak definisi. Tapi kalau kita bedah dari sisi Psikologi Islam dan Psikologi Barat (seperti teori Sigmund Freud), ternyata ada perbedaan yang menarik banget buat disimak! Akhlak vs Gejala: Dua Cara Melihat Perilaku Kalau kita baca pemikiran tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali, beliau lebih sering menyebut kepribadian dengan istilah Akhlak. Fokusnya adalah menilai apakah suatu perilaku itu baik atau buruk. Beda lagi dengan psikologi modern. Di sana, kepribadian dilihat sebagai gejala atau sifat yang didiagnosa untuk memahami karakter seseorang. Jadi, yang satu bicara soal "nilai moral", yang satu lagi soal "pola perilaku". Tiga "Kepribadian" dalam Diri Manusia Menurut perspektif Islam manusia itu bukan cuma gabungan daging dan tulang (Jasad) atau nyawa (Ruh) saja, tapi ada satu elemen penting yang disebut Naf...