Akar dari berbagai permasalahan kompleks di dunia saat ini, mulai dari krisis ekonomi hingga ketegangan politik, disinyalir bukan bersumber dari sistem semata, melainkan dari ego manusia. Fenomena haus akan pengakuan ini dinilai menjadi pemicu utama munculnya konflik dan degradasi moral dalam kehidupan bermasyarakat.
![]() |
Penyair ternama T.S. Eliot menegaskan bahwa ambisi pribadi untuk "terlihat berharga" sering kali membutakan individu. Demi mengejar validasi dan pengakuan dari orang lain, seseorang cenderung rela melakukan tindakan destruktif seperti berbohong hingga melakukan penindasan.
Perbedaan "Terlihat Penting" vs "Menjadi Berarti"
Terdapat garis pemisah yang tegas antara keinginan untuk sekadar tampak penting di mata publik dengan upaya untuk menjadi pribadi yang benar-benar berarti. Perbedaan ini terletak pada sumber motivasinya:
- Ego: Melahirkan keinginan untuk mendapatkan sorotan dan pengakuan instan.
- Kontribusi: Melahirkan makna hidup melalui dampak positif yang diberikan kepada lingkungan sekitar.
Perspektif Viktor Frankl: Kesuksesan Adalah Efek Samping
Senada dengan Eliot, pakar psikiatri dan penulis buku Man’s Search for Meaning, Viktor E. Frankl, menyatakan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tidak bisa dikejar secara paksa.
“Kesuksesan, seperti kebahagiaan, tidak dapat dikejar; itu harus diikuti sebagai efek samping dari pengabdian seseorang pada tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri,” tulis Frankl.
Kesimpulan
Melalui pemikiran kedua tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa individu yang memiliki nilai diri sesungguhnya tidak lagi memerlukan sorotan publik. Kebaikan dan kontribusi nyata secara otomatis akan menjadi "cahaya" yang menunjukkan kualitas diri mereka. Masyarakat diimbau untuk berhenti menghabiskan energi demi pencitraan dan mulai memfokuskan hidup pada pemberian makna melalui aksi nyata.

Komentar
Posting Komentar