Langsung ke konten utama

KAU MAU DIINGAT SEBAGAI APA?


Sebab di antara riuhnya dunia, kita memilih abadi dalam tenang yang paling rahasia
.

Semesta di luar sana selalu punya cara yang bising untuk mengabadikan sesuatu. Orang-orang berlomba menuliskan nama mereka di tempat-tempat yang paling tinggi, berharap bisa diingat melalui megahnya perayaan, atau dibicarakan dalam riuhnya lingkaran sosial yang fana. Bagi mereka, sebuah kehadiran baru dianggap nyata jika berhasil mencuri perhatian banyak pasang mata di bawah binar lampu kota.

Namun, aku tahu jiwamu tidak pernah mencari keriuhan yang melelahkan seperti itu. Kau tidak butuh diletakkan di tempat penuh sandiwara, yang jika panggungnya usai, hanya akan menyisakan sepasang manusia yang saling melempar senyum paling berjarak karena kehilangan makna. Kau pernah bercerita dengan suara yang amat pelan, bahwa kau lebih memilih menetap di ranah yang teduh. Kau hanya ingin diingat melalui hal-hal kecil yang tulus, yang tumbuh dalam senyap tanpa perlu satu pun orang lain tahu.

Maka, di sinilah kita sekarang. Di dalam sebuah ruang yang tenang, di mana waktu seolah melambat hanya untuk menemani perbincangan kita. Aku memilih untuk merawat setiap jengkal tentangmu dengan cara yang paling khidmat; menyimpan tawa kecilmu, menampung sudut rapuhmu, dan menjaga seluruh kesederhanaan ini dengan penuh penerimaan.

"Jika suatu hari nanti perjalanan ini harus menemui batasnya, katakan padaku, kau mau diingat sebagai apa?"

Sebab bagiku, kau sudah abadi sebagai riuh paling indah yang selalu ingin kudengar dalam sunyi. Kau adalah sesosok manusia yang kepalanya kerap berisik namun selalu kutunggu ceritanya dalam diam; yang kisahnya akan selalu kusimpan rapat, dan kehadirannya akan selalu kurayakan dengan penuh rasa syukur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Breadcrumbing: Seni Memberi Harapan Tanpa Kepastian

Pernahkah Anda merasa berada dalam sebuah hubungan yang seolah "jalan di tempat"? Seseorang terus-menerus mengirim pesan singkat, memberikan like di media sosial, atau melontarkan janji manis untuk bertemu, namun tidak pernah benar-benar mewujudkannya? Dalam dunia kencan modern, fenomena ini dikenal sebagai " Breadcrumbing ". Istilah ini mungkin terdengar ringan, namun dampak psikologis yang ditinggalkan bisa sangat mendalam. Apa Itu Breadcrumbing Secara Substansial? Secara harfiah, " breadcrumbing " adalah tindakan meninggalkan "remah-remah roti" emosional untuk menjaga seseorang tetap tertarik tanpa ada niat untuk berkomitmen. Ini adalah bentuk manipulasi halus yang membuat korbannya merasa seolah-olah mereka hampir mendapatkan cinta yang mereka inginkan, padahal sebenarnya mereka hanya sedang dijaga agar tetap menjadi "cadangan". Perspektif Para Ahli: Mengapa Breadcrumbing Ini Terjadi? Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat...

Dialektika Fitrah dan Tabula Rasa: Memahami Hakikat Dasar Manusia

Dalam kajian antropologi dan psikologi perkembangan, pertanyaan mendasar mengenai kondisi manusia saat dilahirkan selalu menjadi topik yang krusial. Apakah manusia lahir dengan membawa potensi bawaan, ataukah ia merupakan "lembaran kosong" yang sepenuhnya dibentuk oleh lingkungan? Penulis akan mengulas perbandingan antara konsep Fitrah dalam tradisi Islam dan Tabula Rasa dalam tradisi Barat. Konsep Fitrah: Potensi Teologis dan Moral Bawaan Dalam epistemologi Islam, manusia tidak dilahirkan dalam keadaan kosong atau netral secara moral. Konsep Fitrah (QS. Ar-Rum: 30)  yang menegaskan bahwa fitrah adalah sistem penciptaan Allah yang melekat pada manusia dan tidak berubah. Hal ini diperkuat oleh hadis yang menyatakan bahwa setiap anak lahir di atas fitrah, sementara lingkungan sosial (orang tua) berperan dalam mengarahkan orientasi keagamaan dan perilakunya. menegaskan bahwa setiap individu lahir dengan membawa potensi dasar yang luhur. Dimensi Teologis: Fitrah merupakan kecende...

Mengenal Kepribadian: Bedanya Sudut Pandang Psikologi Barat dan Islam

Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya membentuk sifat dan perilaku kita? Dalam dunia akademis, "kepribadian" punya banyak definisi. Tapi kalau kita bedah dari sisi Psikologi Islam dan Psikologi Barat (seperti teori Sigmund Freud), ternyata ada perbedaan yang menarik banget buat disimak! Akhlak vs Gejala: Dua Cara Melihat Perilaku Kalau kita baca pemikiran tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali, beliau lebih sering menyebut kepribadian dengan istilah Akhlak. Fokusnya adalah menilai apakah suatu perilaku itu baik atau buruk. Beda lagi dengan psikologi modern. Di sana, kepribadian dilihat sebagai gejala atau sifat yang didiagnosa untuk memahami karakter seseorang. Jadi, yang satu bicara soal "nilai moral", yang satu lagi soal "pola perilaku". Tiga "Kepribadian" dalam Diri Manusia Menurut perspektif Islam manusia itu bukan cuma gabungan daging dan tulang (Jasad) atau nyawa (Ruh) saja, tapi ada satu elemen penting yang disebut Naf...