Sebab di antara riuhnya dunia, kita memilih abadi dalam tenang yang paling rahasia.
Semesta di luar sana selalu punya cara yang bising untuk mengabadikan sesuatu. Orang-orang berlomba menuliskan nama mereka di tempat-tempat yang paling tinggi, berharap bisa diingat melalui megahnya perayaan, atau dibicarakan dalam riuhnya lingkaran sosial yang fana. Bagi mereka, sebuah kehadiran baru dianggap nyata jika berhasil mencuri perhatian banyak pasang mata di bawah binar lampu kota.
Namun, aku tahu jiwamu tidak pernah mencari keriuhan yang melelahkan seperti itu. Kau tidak butuh diletakkan di tempat penuh sandiwara, yang jika panggungnya usai, hanya akan menyisakan sepasang manusia yang saling melempar senyum paling berjarak karena kehilangan makna. Kau pernah bercerita dengan suara yang amat pelan, bahwa kau lebih memilih menetap di ranah yang teduh. Kau hanya ingin diingat melalui hal-hal kecil yang tulus, yang tumbuh dalam senyap tanpa perlu satu pun orang lain tahu.
Maka, di sinilah kita sekarang. Di dalam sebuah ruang yang tenang, di mana waktu seolah melambat hanya untuk menemani perbincangan kita. Aku memilih untuk merawat setiap jengkal tentangmu dengan cara yang paling khidmat; menyimpan tawa kecilmu, menampung sudut rapuhmu, dan menjaga seluruh kesederhanaan ini dengan penuh penerimaan.
"Jika suatu hari nanti perjalanan ini harus menemui batasnya, katakan padaku, kau mau diingat sebagai apa?"
Sebab bagiku, kau sudah abadi sebagai riuh paling indah yang selalu ingin kudengar dalam sunyi. Kau adalah sesosok manusia yang kepalanya kerap berisik namun selalu kutunggu ceritanya dalam diam; yang kisahnya akan selalu kusimpan rapat, dan kehadirannya akan selalu kurayakan dengan penuh rasa syukur.

Komentar
Posting Komentar